Sejarah technopreneurship di Indonesia sudah dimulai pada era 1990-an. Biasanya disebut dengan era dotcom gelombang pertama di negeri ini. Beberapa startup digital yang dilahirkan pada kala itu, contohnya Astaga com, Detik com, Kaskus, Lipposhop com, dan satunet com. Di antara nama-nama itu, hanya beberapa yang bertahan, bahkan melejit hingga kini, sebut saja Detikcom dan Kaskus.
Detikcom didirikan oleh Budiono Darsono dan Abdul Rahman pada 1998. Keduanya kompak merintis portal berita tersebut karena sama-sama berlatar belakang jurnalisme. Budiono Darsono adalab mantan wartawan Tabloid Detik, sementara Abdul Rahman adalah mantan penulis di Majalah SWA. Pada 2011, saat usianya mencapai 13 tahun, Detik dibeli oleh pengusaha raksasa yang juga menaungi televisi nasional Trans TV dan Trans7, dengan nilai ratusan milyar rupiah (dengar-dengar sih sekitar 500an milyar rupiah).
Kesuksesan di ranah digital pun direguk oleh Kaskus. Kaskus adalah komunitas yang didirikan oleh tiga anak muda Indonesia, Andrew Darwis, Ronald Stefanus, dan Budi Darmawan pada tahun 1999. Startup yang berbasis komunitas ini akhirnya menarik perhatian anak usaha Grup Djarum PT Global Digital Prima (GDP) Venture.
Kedua perusahaan digital itu dirintis sejak kecil, saat masih berupa Startup. Mereka adalah contoh startup yang sukses mempertahankan eksistensinya. Tidak semua perusahaan digital mengalami nasib sebaik mereka. Banyak juga startup digital di dalam negeri yang akhirnya gulung tikar, contohnya Lipposhop com, Satunet com, dan Astaga com. Padahal ketiga perusahaan digital itu pernah besar pada era dotcom gelombang pertama di negeri ini dan bahkan pernah memimpin dunia portal digital di kala itu.

0 comments:
Post a Comment