Searching...
Sunday, December 15, 2013

Kecenderungan technopreneurship : komunitas, lokal, niche, online, dan crowdsourcing

Melanjutkan posting tentang “Technopreneurship sekarang”, kita bisa melihat bahwa ada beberapa kecenderungan yang dapat dilihat dalam perkembangan technopreneurship secara umum, yaitu:


Technopreneurship menggunakan pendekatan komunitas
Mulai dari situs jejaring sosial, mikroblog, hingga layanan rekomendasi bisnis lokal mulai memanfaatkan komunitas sebagai upaya untuk membangun audiens mereka. Facebook, misalnya menyediakan layanan Group dan Fan Page. Contoh dari dalam negeri adalah Kaskus yang memang bermula dari sebuah komunitas.


Technopreneurship lebih bersifat lokal
Banyak layanan yan gbersifat business to business (B2B) maupun business to consumer (B2C) kini dibentuk dengan target segmen lokal. Bahkan ada pula yang bersifat business to business to consumer (B2B2C). Contoh layanan B2B2C adalah Yelp. Yelp merupakan situs jejaring sosial yang menyediakan layanan pencarian alamat atau tempat-tempat tertentu bagi para anggotanya. Pencarian melalui Yelp bersifat lokal berdasarkan lokasi si pengguna. Misalnya di San Diego, Los Angeles Washington DC, atau Indonesia.


Technopreneruship mengembangkan layanan niche
Mulai banyak layanan yang dibentuk dengna target spesifik. Mereka menyasar segmen pasar tertentu. Salah satu kisah sukses layanan niche adalah jejaring sosial LinkedIn. Layanan ini berorientasi bisnis dna populer di kalangan para profesional.


Technopreneruship mengandalkan cloud computing
Cloud computing (komputasi awan) memungkinkan para pengguna internet melakukan penyimpanan dan pemprosesan data secara online. Beberapa contoh pengembangan teknologi ini dapat dilihat dalam layanan Dropbox, Google Docs (sekarang menjadi Google Drive), dan Evernote.


Technopreneurship bersifat crowdsourcing
Pengembangan konten secara crowdsourcing artinya dilakukan oleh banyak orang. Sifat umunya many-to-many. Contoh layanan crowdsourcing antara lain Quora, Yahoo Answer, dan Digg.



Singkatnya technopreneurship pada saat ini, yakni pada geerasi pasca dot-com bubble menghasilkan layanan-layanan yang mendorong konsep Web 2.0. Konsep Web 2.0 pertama kali dicetuskan oleh Tim O’Reilly pada 2003. Konsep ini menekankan penggunaan web yang berfokus pada interaksi, kolaborasi, konten yang bersifat user-generated, serta pertumbuhan komunitas virtual.

0 comments:

Post a Comment

 
Back to top!