Pada era 1950-an, Stanford University berupaya mencari dana untuk menyelesaikan permasalahan finansial akibat krisi pasca perang dunia kedua. Pengelolal universitas memutuskan untuk menyewa tanah di lembah Santa Clara yang dimilikinya kepada perusahaan-perusahaan teknologi. Penyewaan tanah itu diikuti dengan kerja sama antara Stanford, yang merupakan salah satu kampus terbaik di AS, dengan industri-industri yang berada di negeri Paman Sam. Beberapa nama besar segera mrespon tawaran ini. Hasilnya, lembah Santa Clara di California pun menjadi rumah bagi Hewlett Packard, General Electril, Locheed Corp., dan Kodak.
Selain keempat perusahaan itu, masih ada banyak perusahaan besar di bidang teknologu informasi dan komunikasi (TIK) yang berpusat di Silicon Valley. Di antaranya Apple Inc., Adobe Systems, Cisco Systems, eBay, Google, Intel, Nvidia, Symantec, dan Yahoo! Selain itu masih ada berbagai perusahaan besar lainnya yang merskipun tidak berpusat di sana, namun membuka cabang utama di Silicon Valley. Mereka antara lain Asus, Electonic Arts, Facebook, Fujitsu, Mozilla, Microsoft, Netflix, Nokia, Opera,dan Sony Ericsson.
Budaya inovasi di Silicon Valley tidak lahir dalam sekejap. Perlu waktu berpuluh-puluh tahun lamanya, serta kolaborasi antara berbagai pihak dari dunia industri dan dunia akademik untuk dapat menghasilkan budaya technopreneurship seperti yang ada di sana saat ini. Daya tarik Silicon Valley membuat banyak anak muda potensial melirik daerah itu, baik untuk belajar di kampus-kampus yang ada di sana itu, ataupun untuk merintis ide-ide mereka menjadi sesuatu yang berpengaruh di kemudian hari.
0 comments:
Post a Comment